Hikayat Pengabdian dan Pengalaman Pendidik SM3T

Punya semangat mendidik dan berpetualang ke daerah baru? Ayoo gabung. Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) adalah program pengiriman guru ke berbagai pelosok negeri. Program ini yang mendorong Musleh, seorang guru asal Labuhan Batu bersama puluhan ribu guru yang bertugas tidak hanya mengajar dan mendidik, tetapi juga mendorong kemajuan sekolah di tempat pengabdian mereka.
Tahun lalu, Musleh menjadi satu dari 3.140 guru yang terseleksi dari 18 ribu pelamar Program SM3T. Musleh bercerita, ada berbagai tahapan yang dijalaninya hingga berhasil lulus. Dia menuturkan pengalamannya sebagai guru di Pulau Siumeuleu Barat di Aceh. “Kehidupan sosial kita yang biasa di kota sangat berbeda. Seperti disiplin dalam belajar ternyata anak-anak di sana masuk sekolah tidak tepat waktu sehingga perlu diberi contoh pentingnya disiplin. Sebagai lulusan Fakultas Olah Raga Universitas Negeri Medan (UNIMED), dia mengajarkan sepak bola dan bola voli, dua jenis olah raga yang paling disukai anak-anak di daerah terpencil.
Hal yang sama dialami oleh Mazdalifah Saragih asal Serdang Bedagai. ”Banyak sukanya karena menemukan budaya baru, suasana baru dan orang-orang baru. Pengalaman yang tidak pernah terlupakan, mengajarkan anak-anak dengan karakter yang sangat berbeda menjadi tantangan tersendiri. Apa yang menjadi kebiasaan mereka dikaitkan dengan pembelajaran tidaklah sulit, mungkin pendekatannya yang penting. Simeulue yg membuat saya betah, alamnya belum tersentuh.”
Kiki Tien Manalu, alumnus Jurusan Bahasa Inggris UNIMED yang lain, yang mengabdi di Yahukimo Papua, menuturkan kita harus beradaptasi dengan bahasa mereka, dengan mindset mereka yang cenderung keras kepala. Bagi mereka, apa yang sudah mereka ketahui, sudah benar. Bagaimana saya mengubahnya sangat sulit, misalnya dalam tenses (grammatical structures). Hal lain, pandangan bagi mereka Papua adalah sebuah negara merdeka. Saya katakan, bahwa kita Satu Negara, Satu Bangsa Satu Bahasa, yaitu Indonesia. Pelan tapi pasti, akhirnya mereka memahaminya. Di SM3T ini memang kita diajarkan untuk dapat memanfaatkan sitauasi dan kondisi alam untuk bertahan hidup,” Kata Kiki mengakhiri wawancara.
Hidayat, Wakil Pengelola Program SM3T menuturkan, “Dalam proses pelaksanaannya, Program SM3T di Unimed mendapat perhatian lebih dari semua stakeholders (Dosen, Fakultas, Rektorat, Pemerintah Daerah dan juga Kemristekdikti). Artinya ini dikelola secara profesional. Doktor lulusan bidang Sosiologi Pedesaan IPB ini menambahkan,”Tahun pertama penyelenggaraan ada kendala bila dilihat dari output kelulusannya yang hanya sedikit, namun pada tahun kedua 100% lulus. Seperti apa yang dikatakan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI), program ini telah berhasil mengirimkan 7.962 guru ke seluruh pelosok Indonesia selama kurun waktu 5 (lima) tahun sejak SM3T diluncurkan tahun 2011”.
Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (monev) Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemristekdikti ini dilakukan untuk mengetahui kesiapan UNIMED dalam Pelaksanaan dan Evaluasi Ujian Tulis Nasional (UTN) Ulang ke-2 Pendidikan Profesi Guru (PPG) SM3T dan PPG Terintegrasi (PPGT) pada Sabtu, 30 Januari 2016. Hasil dalam monev ini antara lain perlunya perbaikan panduan teknis pelaksanaan UTN PPG SM3T dan PPGT khususnya dalam pembuatan soal dapat diserahkan kepada tim sehingga dapat mempermudah para peserta UTN PPG SM3T dan PPGT lintas jurusan dalam melaksanakannya, perlunya penambahan waktu bagi daerah tertentu yang mengalami pemadaman listrik pada saat ujian berlangsung. Terakhir, secara keseluruhan perlunya kebijakan khusus bagi pemerintah untuk dapat mengevaluasi pelaksanaan PPG SM3T dan PPGT melalui inventaris masalah yang terjadi di lapangan dan solusinya. (Abds, editor Mega)

http://belmawa.ristekdikti.go.id/2016/02/04/pengabdian-dan-pengalaman-melalui-program-ppg-sm3t/

Mengenal Rangkaian Tes Seleksi Program SM3T

Mulai tahun 2016 mendatang, kuota peserta dan sasaran daerah program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) akan diperluas.

Ali Ghufron Mukti selaku Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemenristek Dikti, menuturkan perluasan program akan dilakukan dengan strategi kerjasama antara dua kementerian yaitu Kemenristek Dikti dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Nah bagi kamu yang akan mencoba mendaftar sebagai pendidik SM3T, berikut adalah rangkaian tes yang akan anda lalui sebelum anda ditempatkan sebagai pendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal.

Daftar Online

Setiap sarjana yang tertarik untuk menjadi guru SM3T dipersilakan melamar secara online di alamat http://seleksi.dikti.go.id/sm3t/
Lamaran untuk guru SM3T biasanya dibuka antara bulan Maret sampai dengan bulan Juni setiap tahunnya.

Disaat anda akan melamar, silakan anda siapkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pelamar SM3T, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan identitas diri berupa KTP yang masih berlaku;
  • Lulusan program studi kependidikan S-1 (bukan transfer) dari program studi terakreditasi yang sesuai dengan mata pelajaran dan/atau bidang keahlian yang dibutuhkan, dibuktikan dengan fotokopi ijazah yang telah disahkan (legalisasi). Peserta harus tercatat di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
  • Berusia maksimum 27 tahun
  • IPK minimal 3,00 yang dibuktikan dengan fotokopi transkrip nilai yang telah disahkan (legalisasi);
  • Berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
  • Bebas dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) dari pejabat yang berwenang;
  • Berkelakuan baik yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dikeluarkan oleh Polres/Polresta; dan
  • Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti Program SM-3T dan PPG, yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai 6000 rupiah
  • Belum pernah mengikuti program SM-3T pada tahun sebelumnya dan sanggup mengikuti program PPG yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai.

Seleksi Administrasi

Panitia seleksi akan malakukan screening administrasi terhadap semua dokumen yang masuk ke pihak panitia. Dokumen tersebut terdiri dari dokumen lamaran serta semua persyaratan yang telah dikirimkan pelamar ketika melakukan pendaftaran. Dalam tahapan ini setiap peserta akan dinyatakan lulus jika bisa memenuhi kualifikasi persyaratan yang dipersyaratkan dalam persyaratan SM3T.

Tes Online

Setiap pelamar yang dinyatakan lulus seleksi administrasi akan diberikan tes secara online. Tes ini mirip sekali dengan tes CAT CPNS. Seleksi ini akan berlangsung secara nasional dan terdiri dari beberapa tes yaitu, tes potensi akademik, tes kemampuan dasar dan tes kompetensi bidang. Sebagai rekomendasi anda bisa mempelajari Paket LKIT dan Paket LKIT TKB Keguruan dalam menghadapi tes ini.

Tes Wawancara

Tes ini adalah merupakan salah satu tes yang bisa menggali dan mengetahui kepribadian anda sebagai seorang calon pelamar yang sebenarnya. Dalam menghadapi tes ini yang harus anda persiapkan adalah kondisi badan dan cukup istirahat. Jawablah semua pertanyaan Interviewer dengan jujur, simple dan buatlah mereka menemukan sesuatu pada diri anda yang tidak orang lain miliki.

Dalam tahapan tes ini usahakan anda harus sudah datang satu jam sebelum tes dimulai. Gunakan pakaian yang sopan, rapi dan bersepatu. Gunakan parfum secukupnya dan janganlah dandan terlalu berlebihan dan mencolok (khusus perempuan).

Tes wawancara SM3T pada umumnya akan menanyakan tentang kesiapan dan kesanggupan pelamar ketika ditempatkan di suatu daerah yang jauh dari kota, jarang kendaraan, berada di tengah hutan, tidak ada listrik, air langka, tidak ada fasilitas umum dan lain hal lainnya. Untuk lebih mengenal hal tersebut silakan anda ketahui suka duka pengalaman program SM3T terlebih dahulu.

Wawancara bertujuan untuk mengenal potensi minat dan bakat sebagai pendidik. Selain melalui wawancara, penelurusan minat dan bakat dilakukan melalui asasemen kepribadian menggunakan psikotes dan tes khusus.

Disaat anda menghadapi tes ini ada beberapa kelengkapan berkas yang harus anda bawa, diantaranya adalah:

  • Identitas diri berupa KTP yang masih berlaku
  • Fotokopi ijazah yang telah disahkan (legalisasi).
  • Fotokopi transkrip nilai yang telah disahkan (legalisasi);
  • Surat keterangan berbadan sehat dari dokter;
  • Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) dari pejabat yang berwenang;
  • Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dikeluarkan oleh Polres/Polresta;
  • Surat Kesanggupan ditugaskan di seluruh wilayah NKRI ;
  • Surat ijin dari orang tua/wali bermaterai 6000;
  • Surat Pernyataan Belum Menikah dan pernyataan bersedia untuk tidak menikah selama mengikuti Program SM-3T dan PPG, bermaterai 6000 ;
  • Surat Pernyataan belum pernah mengikuti program SM-3T pd thn sblmnya dan sanggup mengikuti program PPG
  • Dokumen Sertifikat atau piagam perhargaan (jika memiliki)


Pemeriksaan Kesehatan

Tes ini biasanya dilakukan setelah rangkaian proses wawancara selesai. Dalam tes ini anda akan diperiksa kesehatan anda secara menyeluruh oleh tim kesehatan yang sudah dipersiapkan.

Masa Pra Kondisi

Masa pra kondisi bisa disebut sebagai masa pembekalan dan persiapan peserta SM3T sebelum terjun kelokasi pengabdian di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang telah ditentukan. Pra-kondisi ini bertujuan untuk membekali kesiapan peserta sekaligus sebagai seleksi kesiapan fisik dan mental. Semua kegiatan yang telah dirancang, diisi oleh para instruktur yang ahli dibidangnya.

Masa pra kondisi sm3t biasanya akan dibantu dan dibimbing oleh Militer selama kurang lebih 10 hari. Di tahapan ini para peserta akan mendapat materi seputar bela negara, serta bagaimana bisa masuk ke dalam budaya yang baru. Ada juga meteri untuk bisa bertahan hidup di alam bebas. Kehidupan kita di perkotaan membuat semua serba mudah dan instan. Sementara di tempat mengabdi, terkadang kita harus bisa memanfaatkan alam untuk bisa bertahan hidup.

Masa pra kondisi terdiri dari indoor dan outdoor training.
Kegiatan Indoor terdiri dari:

  1. Achievement Motivation Training;
  2. Informasi tentang Hukum dan BKKBN, Kondisi Daerah Sasaran, juga pemutaran Film tentang Program SM3T;
  3. Workshop pengembangan perangkat pembelajaran untuk di daerah sasaran, termasuk informasi tentang media pembelajaran, terutama dalam menghadapi tugas mengajar di kelas rangkap dan multisubyek;
  4. Praktik pembelajaran melalui peer teaching.

Kegiatan Outdoor terdiri dari:

  • Pelatihan kepemimpinan dan bela negara
  • Pelatihan ketrampilan
  • Pembinaan mental, motivasi, dan survival (ketahanmalangan),
  • UKS, serta P3K.

Secara garis besar tahapan ini dimaksudkan untuk membekali kesiapan peserta sekaligus sebagai seleksi kesiapan fisik dan mental sebelum diterjunkan ke Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal

http://www.asncpns.com/2015/12/mengenal-rangkaian-tes-seleksi-program.html

Manfaat Mempelajari Psikologi Pendidikan Bagi Guru & Calon Guru

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana telah diamanatkan oleh UUD 1945 adalah sebagai upaya mencerdaskan generasi-generasi bangsa yang nantinya akan menjadi penerus perjuangan generasi terdahulu dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia menuju bangsa yang berbudi luhur dan berkesejahteraan sosial.

Namun demikian untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diatas, bukanlah merupakan suatu hal yang mudah. Realitas globalisasi dan modernisasi dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, diakui atau tidak telah memberi dampak negatif yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dampak positif yang ditimbulkan terhadap perkembangan para generasi bangsa ini, dan selanjutnya hal ini akan dapat menghambat pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana diamatkan oleh UUD 1945.

Dampak negatif dari globalisasi, modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya terhadap perkembangan generasi-generasi bangsa ini tentunya bukan merupakan rahasia lagi. Hampir tiap hari kita disuguhi dengan informasi-informasi mengenai pelajar yang membolos sekolah dan keluyuran dijalanan, pelajar yang terlibat perkelahian, pelajar yang terlibat perilaku seks bebas, pelajar yang terlibat penyalah gunaan narkoba dan masih banyak lagi.

Realitas perilaku para pelajar sebagaimana telah digambarkan diatas, jelas sangat menuntut keterampilan para tenaga pendidik dalam memahami perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik para pelajar jika menginginkan para pelajar tersebut tidak gagal di bangku sekolah dan tidak kehilangan masa depan mereka.

Ilmu psikologi pendidikan adalah ilmu yang sangat penting dikuasai oleh seorang guru sebagai pendidik dan pengajar.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Peranan psikologi dalam dunia pendidikan sangatlah penting dalam rangka mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antara setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para guru, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.

Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Disinilah pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi para tenaga pendidik dan disinilah pentingnya peran seorang Psikolog dalam dunia pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, tim penulis tertarik untuk membuat makalah mengenai “Manfaat Psikologi Pendidikan Bagi Guru”

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa rumusan masalah, antara lain:

  1. Apa yang dimaksud dengan psikologi pendidikan?
  2. Apa yang dimaksud dengan guru?
  3. Bagaimana syarat, sikap dan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru?
  4. Apa saja manfaat psikologi pendidikan bagi guru?

 

  • Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penuisan makalah ini, antara lain:

  1. Untuk mengetahui pengertian psikologi pendidikan.
  2. Untuk mengetahui pengertian guru.
  3. Untuk mengetahui syarat, sikap, dan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru.
  4. Untuk mengetahui manfaat mempelajari psikologi pendidikan bagi guru.

 

  • Manfaat Penulisan

Penulisan makalah ini diharapkan dapat memperoleh manfaat sebagai berikut:

  1. Makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai pendalaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan psikologi pendidikan.
  2. Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan menjadi referensi bagi pembaca.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Psikologi Pendidikan
    • Pengertian Psikologi

Psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu. Jadi secara etimologi psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.  Abu (2003:3) menyebutkan psikologi dapat diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau gejala-gejala jiwa manusia. Lebih lanjut Dalyono (2009:2) menjelaskan macam-macam definisi psikologi, seperti:

  1. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life)
  2. Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind)
  3. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behaviour).

 

  • Pengertian Pendidikan

Adapun mengenai pendidikan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya bpengajaran dan pelatihan. (KBBI, 1991:232 dalam Dalyono). Dalam bahasa inggris, pendidikan berarti education yang berasal dari kata educate yang artinya memberikan peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam arti sempit berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan. (Mc. Leoc, 1989 dalam Dalyono).

Sementara itu menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdesan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

  • Pengertian Psikologi Pendidikan

Salah seorang ahli yang menganggap psikologi pendidikan sebagai subdisiplin psikologi terapan adalah Arthur S. Reber, seorang guru besar psikologi pada Brooklyn College, University of New York City, University of British Colombia Canada dan juga pada University of Insbruck Austria. Dalam pandangannya, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
  2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum
  3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
  4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
  5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan. (Arthur S. Reber, 1998 dalam Dalyono)

Abu (2003:7) menyebutkan psikologi pendidikan yaitu psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik, bagaimana cara belajar dan mengajar yang baik dan sebagainya.

Pendidikan memerlukan psikologi karena dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, seorang guru harus memperhatikan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Semakin siap kondisi jiwa peserta didik dalam menerima materi pelajaran, akan semakin baik hasil yang diperoleh. (Wiji, 2009:7)

  • Guru
    • Pengertian Guru

Menurut Drs. H.A. Ametembum, guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid/siswa baik secara individual ataupun klasikal, baik disekolah maupun di luar sekolah. (Akmal: 2013:9). Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sementara dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tahun 2008 tentang guru, sebutan guru mencakup:

  1. Guru itu sendiri, baik guru kelas, guru bidang studi, maupun guru bimbingan dan konseling atau guru bimbingan karier
  2. Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah, dan
  3. Guru dalam jabatan pengawas. (Ali, 2013:120).

 

  • Persyaratan Guru

Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, menjadi guru harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: Takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan rohani (roeping), dan berkelakuan baik. (Akmal, 2013:11). Pendapat lain menaparkan, syarat untuk menjadi guru/pendidik yaitu:

  1. Dia harus mengerti ilmu mendidik sebaik-baiknya, sehingga segala tindakannya dalam mendidik disesuaikan dengan jiwa anak didiknya.
  2. Dia harus memiliki bahasa yang baik dan menggunakannya sebaik mungkin, sehingga dengan bahasa itu anak tertarik kepada pelajarannya. Dan dengan bahasanya itu dapat menimbulkan perasaan yang halus pada anak.
  3. Dia harus mencintai anak didiknya sebab cinta senantiasa mengandung arti menghilangkan kepentingan diri sendiri untuk keperluan orang lain. (Hamdani dan Fuad, 2007:102)
    • Kepribadian dan Sifat Guru

Faktor terpenting dari seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dn pembina bagi anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya akan menjadi perusak dan penghancur bagi masa depan anak didiknya. Guru adalah seseorang yang bukan hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan saja. Tetapi guru juga adalah seorang yang patut dicontoh. Oleh karena itu, guru harus mempunyai kepribadian, tingkah laku, moral, emosi dan sikap yang baik yang dapat mempengaruhi anak didiknya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, ada dua macam kepribadian guru, yaitu:

  1. Guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyuruh. Hal seperti ini kurang menyenangkan dalam pendidikan.
  2. Guru yang menempatkan dirinya sebagai mitra bagi anak didiknya. Biasanya guru seperti ini menarik dan menyenangkan, ia akan dihormatidan disayangi oleh anak didiknya. (Akmal, 2013:56).

Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guru seperti pendapat Prof.Dr. Moh. Athiyah Al-Abrasyi adalah: zuhud (tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridhaan Allah SWT semata, jauh dari dosa besar dan sifat riya, ikhlas, pemaaf terhadap muridnya, mencintai muridnya, memahami peserta didik, menguasai materi pelajaran yang akan diajarkannya. (Hamdani dan Fuad, 2007:104-105).

  • Manfaat Psikologi Pendidikan Bagi Guru

Muhammad dan Novan (2013) memaparkan ada beberapa manfaat bagi guru dalam mempelajari psikologi pendidikan, antara lain:agar guru memahami perbedaan siswa (Diversity of Student), untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif di dalam kelas, untuk memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat, memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa (konseling), mengevaluasi hasil pembelajaran, berinteraksi secara tepat dengan siswanya, menilai hasil pembelajaran dengan adil, menetapkan tujuan pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penyusunan jadwal pelajaran, dan memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Berikut akan dipaparkan satu-persatu penjelasannya:

  1. Memahami Perbedaan Siswa (Diversity of Student)

Setiap individu dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siwa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami keberagaman antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, mulai dari perbedaan tingkat pertumbuhannya, tugas perkembangannya sampai pada masing-masing potensi yang dimiliki oleh anak. Dengan pemahaman guru yang baik terhadap siswanya, maka bisa menciptakan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

  1. Untuk menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif di dalam Kelas

Kemampuan guru dalam menciptakan iklim dan kondisi pembelajaran yang kondusif mampu membantu proses pembelajaran berjalan secara efektif. Seorang pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda menyesuaikan karakteristik siswa dalam mengajar untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih baik. Disinilah peran psikologi pendidikan yang mampu mengajarkan bagaimana seorang pendidik mampu memahami kondisi psikologis dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif,  sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan secara efektif.

  1. Untuk Memilih Strategi dan Metode Pembelajaran

Sebagai sorang pendidik dalam memilih strategi dan metode pembelajaran harus menyesuaikan dengan tugas perkembangan dan karakteristik masing-masing peserta didiknya. Hal ini bisa didapatkan oleh seorang guru dengan mempelajari psikologi terutama tugas-tugas perkembangan manusia. Jika metode dan model pendidikan sudah bisa disesuaikan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran bisa berjalan dengan maksimal.

  1. Memberikan Bimbingan dan Pengarahan kepada Siswa (Konseling)

Selain berperan sebagai pengajar di dalam kelas, seorang guru juga diharapkan bisa menjadi seorang pembimbing yang mempu memberikan bimbingan kepada peserta didiknya, terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik. Dengan berperan sebagai seorang pembimbing seorang pendidik juga lebih bisa melakukan pendekatan secara emosional terhadap peserta didiknya. Jika sudah tercipta hubungan emosional yang positif antara pendidik dan peserta didiknya, maka proses pembelajaran juga akan tercipta secara menyenangkan.

  1. Mengevaluasi Hasil Pembelajaran

Tugas utama guru/pendidik adalah mengajar di dalam kelas dan melakukan evaluasi dari hasil pengajaran yang sudah dilakukan. Dengan mempelajari psikologi pendidikan diharapkan seorang pendidik mampu memberikan penilaian dan evaluasi secara adil menyesuikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya.

  1. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.

  1. Menilai hasil pembelajaran yang adil

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

  1. Menetapkan Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu guru dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.

  1. Penggunaan Media Pembelajaran

Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan guru untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.

  1. Penyusunan Jadwal Pelajaran

Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.

  1. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.

Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru untuk merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.

  • Contoh Kasus-Kasus Guru yang tidak Menerapkan Psikologi Pendidikan

Dalam tahun 2015 ini, terdapat beberapa kasus yang tidak semestinya dilakukan oleh guru terhadap murid/siswanya. Kasus-kasus itu terjadi diindikasikan akibat guru yang tidak menerapkan, memahami dan mempelajari psikologi pendidikan dengan baik dan menyeluruh. Beberapa kasus tersebut antara lain seperti dirangkum dariwww.sindonews.com:

  • Kasus guru wanita SDN 7 Matangkuli Aceh Utara, yang berinisial AN (53) yang melakukan tindak kekerasan terhadap FN (12) murid kelas 5 SD dengan memukul bagian kepala siswa tersebut dengan martil/palu. (Agustus, 2015).
  • Seorang guru MTs di Bantul berinisial EN (63) melakukan aksi pencabulan terhadap belasan anak di bawah umur yang tinggal di seputaran rumahnya. (Juli, 2015)
  • Seorang guru SDN Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu, Pekanbaru, Riau berinisial Z melakukan pemaksaan untuk melakukan oral seks kepada 6 muridnya yang berusia antara 8-9 tahun di perpustakaan sekolah setempat. (Mei, 2015)
  • Seorang guru Bahasa Jerman di SMAN 2 Kota Kefamenanu Timor Tengah Utara, NTT, memberikan hukuman kepada seorang murid bernama Melson Aluet (17) karena tidak mengerjakan PR dengan cara menyuruh membenturkan kepalanya sendiri di meja sebanyak 80 kali. Akibatnya Melson mengalami gegar otar hingga muntah darah.

Kasus-kasus seperti diatas diharapkan semakin minim terjadi dalam dunia pendidikan. Guru diharapkan dapat mempelajari, memahami dan mendalami psikologi pendidikan dalam dirinya sebagai bagian penting dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik generasi bangsa. Sebab di dalam dunia pendidikan, untuk mencapai pendidikan yang maksimal dan efektif bukan hanya terkait pembahasan kurikulum belaka, namun juga permasalahan psikologis peserta didik dan model pengajaran pendidiknya juga harus tetap diperhatikan. Oleh karena itu, psikologi pendidikan menjadi penting untuk dipelajari oleh setiap pendidik ataupun calon pendidik.

KESIMPULAN

  1. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya atau dengan kata lain psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau gejala-gejala jiwa manusia.
  2. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdesan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
  3. Psikologi pendidikan yaitu psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik, bagaimana cara belajar dan mengajar yang baik dan sebagainya.
  4. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
  5. Guru harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: Takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan rohani (roeping), dan berkelakuan baik.
  6. Guru harus mempunyai kepribadian, tingkah laku, moral, emosi dan sikap yang baik yang dapat mempengaruhi anak didiknya. Ada dua macam kepribadian guru, yaitu: guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyuruh dan guru yang menempatkan dirinya sebagai mitra bagi anak didiknya.
  7. Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guru seperti: zuhud (tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridhaan Allah SWT semata, jauh dari dosa besar dan sifat riya, ikhlas, pemaaf terhadap muridnya, mencintai muridnya, memahami peserta didik, menguasai materi pelajaran yang akan diajarkannya.
  8. Manfaat bagi guru dalam mempelajari psikologi pendidikan, antara lain: agar guru memahami perbedaan siswa (Diversity of Student), untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif di dalam kelas, untuk memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat, memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa (konseling), mengevaluasi hasil pembelajaran, berinteraksi secara tepat dengan siswanya, menilai hasil pembelajaran dengan adil, menetapkan tujuan pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penyusunan jadwal pelajaran, dan memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Dalyono, M. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hawi, Akmal. 2013. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Ihsan, Hamdani dan Fuad Ihsan. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Irham, Muhammad dan Novan Ardy Wiyani. 2013. Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarya: Ar-Ruz Media.

Mudlofir, Ali. 2013. Pendidik Profesional: Konsep, Strategi, dan Aplikasinya dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Suwarno, Wiji. 2009. Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.

——————. 2006.Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI.

https://www.linkedin.com/pulse/manfaat-mempelajari-psikologi-pendidikan-bagi-guru-calon-hardianty

Pengertian Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang, dan sering terfokus pada sub kelompok seperti berbakat anak-anak dan mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat .

Menurut Muhibin Syah (2002), pengertian psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sedangkan menurut  ensiklopedia amerika, Pengertian psikologi pendidikan adalah ilmu yang lebih berprinsip dalam proses pengajaran yang terlibat dengan penemuan – penemuan dan menerapkan prinsip – prinsip dan cara untuk meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

Pengertian Psikologi Pendidikan

Sedangkan menurut  Witherington, Pengertian Psikologi pendidikan adalah  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Tardif (dalam Syah, 1997: 13) juga mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

Dari beberapa pendapat tentang psikologi pendidikan, kami mengambil kesimpulan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari  tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-pendidikan/

Integrasi Teknologi Komunikasi Dan Informasi Dalam Proses Pembelajaran Dan Kesenjangan Penggunaan Tik Di Indonesia

Pada era globalisasi saat ini, masyarakat Indonesia di tuntut untuk mampu menggunakan teknologi agar mampu bersaing dengan Negara lain. Saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu menggunakan Teknologi dengan baik, contohnya saja dalam hal pengoperasian komputer, masih banyak yang belum menguasai Microsoft Office, sehingga Sumber Daya Manusia yang ada belum mencapai tingkat yang sesuai dalam menghadapi era globalisasi saat ini. Pihak sekolah, menjadikan TIK (Teknologi Komunikasi dan Informasi) sebagai mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Dan belum semua guru mampu mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran, sehingga membuat proses pembelajaran menjadi monoton dan membosankan.

Namun saat ini, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dsb, sudah mampu mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran mereka. Contohnya saja, sudah adanya Sekolah yang menerapkan E-learning dalam proses pembelajaran mereka. Adanya sekolah yang menerapkan pendidikan jarak jauh yang membantu daerah-daerah terpencil agar mampu meraih pendidikan yang sebanding dengan mereka yang ada di kota-kota besar.

Masalah besar yang masih ada saat ini diantaranya adalah fasilitas dan kemampuan sumber daya manusia. Fasilitas untuk mendukung adanya pendidikan jarak jauh masih jauh melampaui biaya yang dimiliki pihak sekolah. Tidak semua sekolah mampu menyediakan fasilitas tersebut dengan biaya yang sedikit. Sumber daya guru yang masih sedikit dalam memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dan program-program E-Learning. Adanya rasa “gengsi” guru untuk merubah pola mengajar mereka yang tradisional menjadi pembelajaran berbasis aneka sumber termasuk media pembelajaran juga merupakan salah satu kendala dalam pengintegrasian TIK. Alasan yang selalu ada yaitu kurangnya mereka menguasai media, dan ketidakmampuan itu terkadang tidak mau mereka hilangkan dan tidak mau mempelajari bagaimana media tersebut bekerja membantu proses pembelajaran. Masalah-masalah ini yang selalu menjadi kendala dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran.

Berbeda jauh dengan integrasi teknologi komunikasi dan informasi di kota-kota besar. Adanya pelatihan-pelatihan dan rasa keingintahuan guru untuk menguasai komputer membantu mereka untuk mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran yang ada tidak lagi monoton, seperti penggunaan Power Point dalam pelajaran sejarah; adanya CD pembelajaran dalam pembelajaran Matematika, Biologi, Bahasa Inggris, dsb; adanya penggunaan audio dalam proses pembelajaran Listening pada pelajaran Bahasa Inggris dengan disediakannya Lab Bahasa pada beberapa sekolah; penggunaan Website (baik yang berbayar maupun tidak, misalnya Blog, dsb) pada beberapa sekolah yang mengerti manfaat website tersebut bagi siswa dan sekolah; juga dengan adanya pendidikan jarak jauh tentunya dengan didirikannya Universitas Terbuka dan SMP Terbuka. E-Learning saat ini menjadi satu kebutuhan penting dalam proses pembelajaran agar mampu meratakan pendidikan di Indonesia. Tinggal bagaimana pemerintah mengalokasikan dana pendidikan secara tepat dan merata agar terpenuhinya pemerataan pendidikan dan mengurangi kesenjangan pendidikan yang ada di kota besar dan daerah terpencil.

http://kupukuputp.blogspot.co.id/

Artikel Teknologi Pendidikan

Artikel Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan sekarang sangat jauh berkembang. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat proses pembelajaran lebih cepat dan efektif. Kita masih ingat untuk mendapatkan sebuah bacaan berupa buku sangat sulit, apalagi di tempat-tempat pelosok. Mereka hanya bisa mengandalkan guru-guru mereka sebagai sumber tunggal materi. Berbeda dengan sekarang, perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan bagi dunia pendidikan. Sebut saja teknologi yang sangat berperan penting adalah layanan internet. Hanya mengetik kata yang berhubungan dengan informasi yang kita ingin cari pada web search engine, maka dengan cepat kita akan mendapatkan informasi tersebut.
Berikut beberapa definisi teknologi pendidikan :
  1. Suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non-manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif. Dengan demikian, sejak tahun 1970an, sudah ada pandangan bahwa manusia (dalam hal ini guru ) bukanlah satu-satunya sumber belajar.
  2. Menurut Tom Cutchall (1999) teknologi pendidikan merupakan penelitian dan aplikasi ilmu perilaku dan teori belajar dengan menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis , desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah pemanfaatan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia
  3. Teknologi pendidikan adalah satu bidang dalam memfasilitasi belajar manusia melalui identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar dan melalui pengelolaan proses kesemuanya itu. Obyek formal menurut pengertian ini adalah bagaimana memfasilitasi belajar.
  4. Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur , gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia. Obyek formal teknologi pendidilkan adalah memecahkan masalah belajar manusia. Dilakukan dengan cara menganalisis masalah terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah tersebut.
  5. Definisi terbaru, teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan atau memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat.
Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik) dan meningkatkan kinerja.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa:
  • Teknologi pendidikan adalah suatu disiplin /bidang (field of study)
  • Istilah teknologi pembelajaran dipakai bergantian dengan istilah teknologi pendidikan
  • Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah o Untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran; dan o Untuk meningkatkan kinerja ;
  • Dalam mewujudkan tersebut menggunakan pendekatan sistemi (pendekatan yag holistik/komprehensif, bukan pendekatan yang bersifat parsial);
  • Kawasan teknologi pendidikan dapat meliputi kegiatan yang berkaitan dengan analisis, desain, pengembangan, pemanfaatan , pengelolaan, implementasi dan evaluasi baik proses-proses maupun sumber-sumber belajar.
  • Teknologi pembelajaran tidak hanya bergerak di persekolahan tapi juga dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga , organisasi masyarakat, dll) sejauh berkaitan dengan upaya memcahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja.
  • Yang dimaksud dengan teknologi disini adalah teknologi dalam arti yang luas, bukan hanya teknologi fisik (hardtech), tapi juga teknologi lunak (softtech).
  • https://edigooners.wordpress.com/2015/11/13/artikel-teknologi-pendidikan/

PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

PENDAHULUAN

Di Indonesia pendidikan luar sekolah sudah tumbuh di tengah masyarakat sejak sebelum kemerdekaan. Namun pengakuan secara yuridis formal terhadap keberadaan pendidikan luar sekolah di Indonesia baru pada tahun 1989, yaitu setelah adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dengan Undang-Undang ini terkandung hasrat mulia, untuk memberi pelayanan pendidikan sepanjang hayat bagi seluruh warga masyarakat tanpa membedakan usia, kelamin, suku, agama, budaya dan lingkungan. Empat kata kunci yang diperlukan untuk dapat mewujudkan zat perekat dimaksud adalah kepercayaan, kesediaan, mendengar keterbukaan, dan rasa tanggung jawab. Keempat elemen tersebut bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah tetapi merupakan satu kekuatan yang saling terkait, saling memperkuat.

Apabila kita perhatikan apa dan bagaimana kejadian pembelajaran melalui jalur pendidikan luar sekolah, akan jelas kita lihat ada 10 unsur (patokan) yang akan selalu ada pada setiap program (Anwas Iskandar). Kesepuluh patokan tersebut adalah : warga belajar, sumber belajar, pamong belajar, sarana belajar, tempat belajar, dana belajar, rajin belajar, kelompok belajar, program belajar dan hasil belajar. Kesepuluh unsur tersebut di satu sisi menjadi bagian yang mendukung program pembelajaran namun di sisi lain dapat digunakan menjadi dasar untuk menentukan patokan, ukuran atau standard penilaian untuk melihat sejauh mana pembelajaran mencapai tujuan yang diinginkan.

  1. Warga belajar

Adalah anggota masyarakat yang ikut dalam satu kegiatan pembelajaran. Tidak digunakan istilah peserta didik murid, siswa, karena istilah ini memiliki konotasi bahwa anggota masyarakat tersebut sebatas penerima tidak menjadi pemilik dan penentu, kurang kelihatan aspek keterlibatan; sedang dalam kegiatan PLS, warga belajar turut aktif menentukan apa yang diinginkannya untuk dipelajari. Istilah warga menunjukkan bahwa anggota masyarakat tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.

  1. Sumber belajar

Adalah warga masyarakat yang memiliki kelebihan baik di bidang pengetahuan, keterampilan, sikap dan mampu serta mau mengalihkan apa yang dimilikinya pada warga belajar melalui proses pembelajaran. Sumber belajar adalah orang yang merasa bertanggungjawab untuk meningkatkan kemampuan manusia yang ada di lingkungannya. Mereka adalah manusia yang tidak masa bodoh dengan kebodohan.

Sumber belajar bukan hanya mereka yang memiliki ijazah pada tingkat pendidikan sekolah tertentu, mereka yang tidak sekolah sekalipun, tetapi memiliki keunggulan dan mau membagi keunggulan tersebut pada orang lain dapat menjadi sumber belajar. Sumber belajar disebut juga dengan panggilan tutor, narasumber teknis.

  1. Pamong belajar

Adalah tokoh masyarakat yang mampu dan mau membina, membimbing, mengarahkan dan mengorganisir program pembelajaran masyarakat di sekitarnya. Pamong belajar yang akan menjamin terjadinya proses pembelajaran bagi warga belajar rang telah memutuskan untuk ikut pada program tertentu. Pamong belajar bertempat tinggal di sekitar warga belajar sehingga mereka mudah berkomunikasi dan saling mendukung; Pamong belajar bukan petugas struktural pemerintahan, tetapi petugas yang diterima oleh warga belajar sebagai pembimbing mereka.

  1. Sarana belajar

Adalah bahan dan alat yang ada di lingkungan masyarakat, yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Sarana belajar dalam wujudnya dapat berbentuk buku, lembaran, bangunan, kekayaan alam, hewan, tumbuhan dan apa saja yang apabila dipelajari dapat menambah, meningkatkan wawasan dan pengetahuan warga belajar.

  1. Tempat belajar

Adalah tempat di mana dimungkinkan terjadi proses pembelajaran; Dapat berwujud rumah, tempat pertemuan, tempat beribadah, balai desa, atau bangunan yang tidak digunakan lagi namun masih memungkinkan digunakan. Pembelajaran dapat terjadi dimana saja, sepanjang warga belajar, sumber belajar dan pamong belajar menganggap tempat itu sesuai untuk mendukung pencapaian hasil belajar yang diinginkan. Tempat belajar juga dapat berbentuk lapangan, tempat bersejarah. Karena itulah dikatakan bahwa PLS tidak menuntut gedung, tetapi kesempatan untuk menjamin terjadinya proses pembelajaran.

  1. Dana belajar

Adalah uang atau materi lainnya yang dapat diuangkan dalam menunjang pelaksanaan program pembelajaran yang telah disusun oleh pamong belajar bersama sumber belajar dan warga belajar. Dana belajar dapat bersumber dari pemerintah, tokoh masyarakat, pengusaha di lingkungan dimana warga belajar tinggal, maupun yang bersumber dari warga belajar sendiri ataupun dari warga masyarakat secara umum.

  1. Ragi belajar

Adalah rangsangan yang mampu membangkitkan semangat belajar warga belajar, sehingga proses pembelajaran terjadi; Terjadi tanpa paksaan, gertakan tetapi karena kesadaran warga belajar serta kekuatan sang ada pada ragi belajar itu sendiri. Ragi belajar merupakan kekuatan yang dahsyat baik yang bersumber dari luar diri warga belajar maupun yang sebenarnya ada dalam diri warga belajar yang menyebabkan warga belajar menjadi senang, gembira dan gigih untuk terus belajar. Ragi inilah yang menyebabkan proses pembelajaran terus berjalan sampai tujuan tercapai.

  1. Kelompok belajar

Adalah sejumlah warga belajar yang terdiri dari 5-10 orang, yang berkumpul dalam satu kelompok, memiliki tujuan dan kebutuhan belajar yang sama, dan bersepakat untuk saling membelajarkan. Kelompok inilah bersama sumber belajar dan pamong belajar yang menentukan tempat dan waktu belajar. Kelompok belajar adalah organ yang dinamis dan partisipatif.

  1. Program belajar

Adalah serangkaian kegiatan yang mencerminkan tujuan, isi pembelajaran, cara pembelajaran, waktu pembelajaran, atau sering disebut dengan garis besar kegiatan belajar. Program belajar disusun berdasarkan kebutuhan warga belajar. Sehingga warga belajar menjadi pemilik dari program tersebut. Program pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan warga belajar akan menyebabkan warga belajar jenuh dan meninggalkan program. Program belajar tidak diatur, dipaksakan oleh orang lain, tetapi tumbuh dari keinginan dan kebutuhan warga belajar. Untuk menjamin mutu setiap program disusun acuan terendah yang harus dicapai setelah menyelesaikan program.

  1. Hasil belajar

Adalah serangkaian pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikuasai warga belajar setelah proses pembelajaran tertentu dilalui dalam kurun waktu tertentu. Kebermaknaan hasil belajar bagi peningkatan mutu hidup dan kehidupan warga belajar menjadi patokan keberhasilan. Hasil belajar yang segera dapat memperbaiki kehidupan warga belajar, merupakan ragi belajar untuk proses lebih lanjut. Belajar hanya untuk tahu akan kurang bermakna bagi warga belajar.

Seperti sudah dibicarakan diatas, pendidikan anak dini usia bagi sebagian anggota masyarakat belum menjadi suatu keharusan, sehingga kesediaan untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk tujuan ini belum berkembang. Dengan demikian bagi mereka yang memiliki dana yang cukup dan yang menggunakan perhitungan secara ekonomi, bidang pendidikan anak dini usia masih belum merupakan komoditi yang menjanjikan.

Dari beberapa hambatan yang mungkin ditemui dalam mengembangkan pendidikan anak dini usia, dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah masih sangat dibutuhkan sebagai penyandang dana sebagai motivasi, provokator, dinamisator penumbuhan kesadaran akan pentingnya pendidikan anak dini usia. Sedang pelaksanaan dapat melalui berbagai organisasi kemasyarakatan.

PROGRAM PENDIDIKAN DASAR

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa, sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia, karena manusialah yang merupakan aktor utama dalam pembangunan. Contoh konkret yang dapat kita lihat sekarang bahwa 70% tenaga kerja Indonesia masih berpendidikan sekolah dasar atau kurang.

Kondisi sumber daya manusia seperti ini sangat sulit mendukung pembangunan pertumbuhan ekonomi baik secara sektoral maupun nasional. Cukup bukti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin besar peluang untuk lebih mampu berperan serta dalam pembangunan, sebagaimana hasil studi yang dilaksanakan oleh UNESCO (1998), yang menyimpulkan bahwa: “… education especially basic education can make significant contribution to poverty eradication and enhancement of quality of life“. Selanjutnya UNESCO dalam bukunya yang berjudul “Human development is a process of enlarging people’s choices. Three essentials areas are for people to lead a long and healthy life, to acquire knowledge and to have access to a source needed for a decent standard of living”, di sini kita diingatkan bahwa pendidikan (pendidikan dasar utamanya) pada hakikatnya harus memberi kesempatan kepada setiap orang agar mereka memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.

Ada tiga prinsip yang harus diperhatikan, yaitu membantu mereka agar memiliki umur panjang dan hidup sehat, mendapatkan pengetahuan, dan memiliki akses untuk dapat memenuhi standard kehidupannya secara layak. Ini berarti bahwa sebenarnya pendidikan, utamanya, pendidikan dasar bukannya hanya untuk mereka yang berusia sekolah saja, mereka yang berusia di luar usia sekolah yang karena berbagai hal tidak berkesempatan memperoleh pendidikan berhak pula untuk mendapatkannya.

Jalur pendidikan luar sekolah menyadari sepenuhnya akan hal tersebut di atas. Sebagai realisasinya, semenjak tahun 1977 telah diselenggarakan Program Paket A, kemudian pada tahun 1994, dikembangkan menjadi Program Paket A setara SD, serta pada tahun yang sama pula dikembangkan Program Paket B setara SLTP. Semua ini merupakan upaya untuk memberikan pelayan pendidikan kepada masyarakat sehingga paling tidak semua penduduk negeri ini memiliki pendidikan serendah-rendahnya pendidikan dasar (SD dan SLTP), seperti amanat dari kebijaksanaan pemerintah dalam Wajib Belajar Pendidikan Dasar (9 tahun).

Jumlah penduduk usia 10-44 tahun yang masih buta huruf masih cukup memprihatinkan, demikian pula angka putus SD, lulus SD tidak melanjutkan, dan putus SLTP. Sampai akhir tahun 1998 masih terdapat penduduk buta huruf usia 10-44 tahun sebanyak 6.073.420 orang (4,87%), putus SD usia 7-12 tahun sebanyak 4.038.007 orang (16,6%), lulus SD tidak melanjutkan sebanyak 4.346.586 orang (32,77%), dan putus SLTP usia 13-15 tahun sebanyak 1.823.113 orang (25,87%). (Fakta dan Angka Dikmas 1999)

Dari data di atas kita melihat, masih banyak sasaran yang harus dilayani melalui jalur pendidikan luar sekolah, padahal program-­program pendidikan luar sekolah, khususnya untuk memberikan bekal pendidikan dasar telah lama dilaksanakan. Apabila dilihat dari sisi anggaran perhatian pemerintah pada jalur pendidikan luar sekolah dirasakan masih amat kurang (Umberto Sihombing 2000), walaupun dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989, secara tegas dinyatakan bahwa sistem pendidikan nasional diselenggarakan melalui dua jalur, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya bantuan pemerintah untuk jalur pendidikan luar sekolah.

Namun demikian kita tidak boleh “mengkambing-hitamkan” masalah dana semata, tetapi secara jujur berdasarkan kenyataan yang berhasil diamati penulis dalam penyelenggaraan program-program masih terdapat banyak kendala/permasalahan yang membuat hasil yang di harapkan belum dapat tercapai. Sudah banyak usaha atau upaya pemecahan masalah dilaksanakan dalam penyelenggaraan program di lapangan, tetapi selama ini pemecahan masalah tersebut banyak yang kurang tajam, artinya pemecahan masalah tersebut tidak mengena pada akar permasalahan, tetapi lebih bersifat pada “pengobatan” terhadap kejadian atau symptom yang dialami, tanpa menganalisis lebih jauh penyebab-penyebab kejadian tersebut.

Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan program di masa yang akan datang perlu diadakan peneropongan, penggalian, pengungkapan (scanning) yang menyeluruh pada semua kejadian yang menghambat pelaksanaan program, kemudian dicari akar permasalahannya. Upaya pemecahan masalah harus diupayakan pada upaya pemecahan akar permasalahan, sehingga berbagai aspek yang terjadi akibat dari akar permasalahan tersebut dapat tertanggulangi. Sebab satu akar permasalahan dapat mengakibatkan berbagai kejadian, sehingga apabila akar permasalahan belum tertanggulangi, sedangkan salah satu kejadian yang diakibatkan oleh akar permasalahan diatasi, maka kejadian-kejadian serupa yang menghambat pelaksanaan program akan terus terjadi secara berulang-­ulang, jika tidak dapat dikatakan mubazir, maka upaya tersebut kurang efektif.

Pendidikan dasar dalam jalur pendidikan luar sekolah adalah bentuk pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang karena berbagai hal tidak memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada jalur sekolah, sehingga mereka memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar, minimal setara dengan tamatan pendidikan dasar. Dalam pelaksanaannya pendidikan dasar pada jalur pendidikan luar sekolah, dilaksanakan melalui program: 1) Pemberantasan Buta Aksara melalui Keaksaraan Fungsional; 2) Program Paket A setara SD, dan Paket E setara SUP. Dalam usaha meningkatkan kinerja program pendidikan dasar luar sekolah tersebut, berbagai permasalahan yang dihadapi adalah seperti digambarkan berikut.

  1. Program Pemberantasan Buta Aksara, Melalui Keaksaraan Fungsional

Program pemberantasan buta aksara melalui keaksaraan Fungsional, di masyarakat lebih dikenal dengan program “Keaksaraan Fungsional (KF)” saja. Program KF adalah program pemberantasan buta aksara yang substansi belajarnya disesuaikan dengan kebutuhan dan minat warga belajar berdasarkan potensi lingkungan yang ada di sekitar kehidupan warga belajar. Dengan demikian hasil yang diharapkan dari program ini adalah warga belajar dapat memanfaatkan hasil belajarnya dalam kehidupannya sehari-hari (bersifat fungsional), guna peningkatan kualitas kesejahteraan hidupnya.

Selama pelaksanaan program KF, banyak kejadian yang menghambat kinerja program, antara lain:

  1. Kesalahan Rekruiting Warga Belajar

Dari hasil pengamatan selama ini diperkirakan bahwa sebagian besar warga belajar program Keaksaraan Fungsional bukan berasal dari buta huruf murni, kejadian ini mengakibatkan disamping sulit mengetahui peningkatan hasil belajar akibat dari proses belajar, juga jumlah buta huruf yang ada penurunannya cukup merisaukan. Patut diduga kecilnya penurunan ini sebagai akibat program tidak melayani “siapa yang harus dilayani”. Petugas Dikmas di lapangan sering melakukan kesalahan, yakni merekrut siapa saja yang mau menjadi warga belajar KF, bukan merekrut siapa yang harus direkrut menjadi warga belajar KF.

Tidak adanya “data base“ menyulitkan pelaksanaan proses rekruiting. Data merupakan amunisi tempur bagi seorang perencana dan pelaksana suatu program, karena itu keberadaan data yang terus menerus diremajakan agar sesuai dengan perkembangan dan kemajuan akan sangat diperlukan setiap saat. Peremajaan (updating data) hanya akan berarti apabila telah dimiliki data dasar yang dikumpulkan dengan cara dan alat yang tepat. Pendidikan luar sekolah belum memiliki data yang akurat tentang penduduk buta huruf di setiap wilayah kecamatan yang merupakan wilayah kerja seorang petugas pendidikan luar sekolah.

Akibat dari kurang akuratnya bahkan tidak adanya data base, selain mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam perekrutan warga belajar juga mengakibatkan beberapa kejadian lain seperti proposal program kurang realistik, pengalokasian program yang kurang tepat artinya bukan pada lokasi di mana terdapat warga masyarakat buta huruf banyak.

  1. Proses/Program pembelajaran Belum Menggunakan Pola Interaktif

Program belajar atau proses pembelajaran dalam program keaksaraan fungsional belum merupakan proses interaktif antara warga belajar dengan tutor. Komunikasi dua arah warga belajar dengan tutor mutlak harus terjadi karena walaupun sebenarnya warga belajar buta huruf, namun harus diakui bahwa dalam kehidupan warga belajar sehari-hari banyak pengalaman yang dihayati, dan ini merupakan pengetahuan yang sangat berharga yang dimiliki warga belajar.

Di dalam program keaksaraan fungsional proses belajar terjadi secara interaktif baik antar warga maupun dengan tutor sehingga mereka terlibat secara aktif di dalam proses pembelajaran, bukan dengan pola satu arah. Dengan proses yang interaktif akan tercipta keberanian, hubungan yang harmonis, penghargaan atas pengalaman dan pengetahuan orang lain dan yang paling penting timbul rasa harga diri bagi warga belajar.

Kenyataan di lapangan tidak jarang terjadi tutor, narasumber teknis atau sumber belajar “mengajar” dalam arti menggurui warga belajar tanpa mempertimbangkan bahwa warga belajar dewasa sarat dengan pengalaman dan ilmu kehidupan yang tentu tidak dimiliki tutor yang lebih muda. Kejadian-kejadian lain yang juga sering ditemui dalam proses pembelajaran program keaksaraan fungsional adalah warga belajar banyak yang putus belajar di tengah jalan serta hasil belajar yang dicapai kurang mampu memenuhi kebutuhan belajar warga belajar dan pada akhirnya tidak mampu juga memenuhi kebutuhan pasar.

Pertanyaan kita sekarang, mengapa hal ini terjadi? Dan apa akar permasalahan yang menyebabkan kejadian tersebut? Selama ini akar permasalahannya adalah: (1) warga belajar kurang dilibatkan dalam penyusunan program belajar, sehingga dengan demikian apa yang menjadi kebutuhan belajar warga belajar tidak dapat digali, akhirnya substansi belajar atau jenis keterampilan yang dijadikan alat untuk belajar keaksaraan menjadi kurang tepat dan kurang menarik minat belajar warga belajar; (2) tutor/sumber belajar kurang memahami metode pembelajaran pendidikan luar sekolah yakni metode pembelajaran orang dewasa (andragogi); akibatnya komunikasi dua arah tidak terjadi dalam proses pembelajaran; (3) keterbatasan serta kurang sesuainya substansi/materi sarana belajar. Ketidaksesuaian materi sarana belajar memang sangat mungkin terjadi karena selama ini masih banyak sarana belajar yang dipakai dikembangkan di luar kelompok belajar.

Secara konseptual program keaksaraan fungsional, sarana belajarnya harus dikembangkan oleh warga belajar dan difasilitasi oleh tutor, sehingga dalam diri warga belajar timbul kebanggaan karena mempelajari bahan belajar sesuai kebutuhannya, serta di samping itu pula ketidaksesuaian materi dengan kebutuhan belajar warga belajar kemungkinan akan terjadi sangat kecil. Namun demikian, masih banyak juga ditemui bahwa tutor kurang mampu memfasilitasi warga belajar dalam mengembangkan sarana belajar, baik akibat kurangnya kemampuan tutor dalam mengembangkan sarana belajar KF maupun rendahnya motivasi mereka dalam memberikan pelayanan terbaik bagi sesamanya. Akibatnya, sarana belajar yang dikembangkan memiliki mutu yang perlu dipertanyakan baik dari segi isi, cara penyampaian dan penampilan.

  1. Pentahapan program yang tidak jelas

Dalam program belajar keaksaraan fungsional, dikenal tiga tahap penyelenggaraan program, yakni: tahap pemberantasan, tahap pembinaan, dan tahap pelestarian. Dalam pelaksanaannya di lapangan sangat sulit membedakan apakah kelompok belajar tersebut termasuk tahap pemberantasan, pembinaan atau pelestarian.

Akar permasalahan yang menyebabkan hal ini terjadi adalah sampai saat ini konsep tahapan ini tidak tertulis secara jelas, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti, apa yang menjadi kriteria jika suatu kelompok belajar dapat dikatakan masuk dalam salah satu dari ketiga tahapan belajar tersebut.

Di masa mendatang sangat perlu diterbitkan atau paling tidak ada konsep tertulis apa yang membedakan antara ketiga tahapan tersebut, selain faktor waktu. Karena mungkin saja satu kelompok belajar telah belajar lebih dari 6 bulan, tetapi belum dapat dikatakan naik ke tahap berikutnya akibat kemampuan standard yang dimiliki pada tahap tertentu belum tercapai.

  1. Kelompok belajar

Setiap kelompok belajar dalam program keaksaraan fungsional rata-rata terdiri dari 10 orang warga belajar. Cukup kecil memang, tetapi kenyataan yang di lapangan ternyata kelompok yang sedemikian kecilnya ternyata sangat sulit untuk dipertahankan sampai proses belajar selesai. Walaupun jumlah kelompok utuh sepuluh orang, tetapi biasanya kalau ditelusuri secara seksama sering terjadi tambal-sulam. Tambal-sulam ini terjadi karena ada dari sebagian petugas bermental “asal atasan senang” atau bermental “yang penting kelompok belajar utuh 10 orang” tidak melaporkan apa yang terjadi sebenarnya di lapangan.

Dengan kejadian seperti ini kemajuan belajar tidak dapat diketahui secara pasti karena dalam kelompok tersebut ada warga belajar yang mulai dari awal, ada yang pertengahan, bahkan ada pula yang baru bergabung ketika kelompok belajar tersebut akan dipantau. Ada beberapa hal yang menyebabkan kejadian ini berlangsung, antara lair: (1) mobilitas warga belajar sangat tinggi; hal ini terjadi karena hampir seluruh warga belajar program keaksaraan fungsional adalah orang miskin, baik itu miskin ilmu, miskin kemampuan, dan yang paling berat adalah miskin ekonomi/harta. Oleh karena itu, pemenuhan ekonomi menjadi prioritas utama bagi sebagian besar dari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tidak jarang memaksa­ mereka harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan pindah ke propinsi lain.

Kejadian seperti di atas sangat sulit untuk dihindari, karena bagaimana pun baiknya program belajar, jika tidak langsung memberikan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan warga belajar, terutama dalam hal pemecahan masalah ekonomi, maka mobilitas warga belajar sangat sulit untuk dihindari. (2) Ketidak-utuhan kelompok belajar juga dipengaruhi oleh kekurangsesuaian antara materi belajar dengan kebutuhan dan minat belajar warga belajar. Hal ini terjadi karena sering sekali petugas (tutor atau fasilitator) tidak mau pusing-pusing untuk berusaha memenuhi kebutuhan belajar warga belajar, sehingga bukan upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar warga belajar yang terjadi, tetapi apa yang mampu dilaksanakan oleh petugas itulah yang harus dipelajari oleh warga belajar.

Dengan demikian warga belajar menjadi tidak betah belajar, karena apa yang mereka harapkan dari proses belajar tidak diperolehnya, dan akhirnya mereka mengundurkan din atau putus belajar. (3) Kesalahan dalam penempatan kelompok belajar (lokasi) juga merupakan salah satu faktor penyebab sulitnya mempertahankan keutuhan kelompok belajar. Hampir semua petugas memahami bahwa lokasi kelompok belajar seharusnya dekat atau berada di sekitar pemukiman warga belajar, tetapi biasanya tempat belajar beserta sarananya tidak ada di sekitar pemukiman kelompok belajar. Biasanya kenyataan seperti ini memaksa petugas untuk mencari tempat belajar di luar pemukiman warga belajar.

Sangat sulit memang mencari pemecahan masalah seperti tersebut di atas, oleh karenanya sejak bulan Agustus 1998, telah dirintis pelembagaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga kendala-kendala tersebut sedapat mungkin dapat dihindari. Sedangkan bagi kelompok belajar yang tidak mungkin belajar di PKBM, tidak harus dilaksanakan di PKBM, tetapi masih berada di bawah pengawasan/kendali oleh PKBM.

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar dalam program keaksaraan fungsional adalah di samping warga belajar memiliki kemampuan baca, tulis, hitung, dan berbahasa Indonesia, juga memiliki keterampilan bermata pencaharian yang dapat dijadikan sumber penghasilan (fungsional), artinya hasil belajar tersebut bermakna, paling tidak terhadap dirinya sendiri dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu, program pembelajaran, seharusnya diarahkan pada suatu tujuan hasil belajar tersebut di atas, dan sudah barang tentu antara satu warga belajar dengan warga belajar lain memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, atau paling tidak antara satu kelompok belajar dengan kelompok belajar lain kebutuhan belajarnya berbeda.

Kejadian atau kenyataan di lapangan yang sering ditemui, ternyata hasil belajar yang diperoleh oleh warga belajar KF baru terbatas pada kemampuan baca, tulis, hitung semata (itu pun sangat terbatas), tetapi belum sepenuhnya dapat memberikan makna terhadap kehidupannya (kurang fungsional). Kenapa hal ini terjadi? Pertama, sampai saat ini setiap kelompok belajar belum memiliki patokan yang jelas, hasil belajar apa yang ingin dicapai.

Contoh : jika kelompok belajar KF belajar baca, tulis, hitung, dan bahasa Indonesia melalui keterampilan menjahit, maka seharusnya ada standard sampai di mana? atau sampai tingkat kemampuan apa?…baca, tulis, hitung dan berbahasa Indonesia warga belajar, serta dalam hal keterampilan warga belajar selesai sampai terampil membuat apa…? Sehingga dengan demikian ada batasan yang jelas kapan warga belajar berhenti belajar untuk tahapan tertentu.

Karena jika warga belajar, belajar terus tanpa ada batasan sampai kapan? dan tingkat kemampuan apa?, lama-kelamaan akan dapat menurunkan motivasi belajar, yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya putus belajar.

Contoh kecil yang mungkin dapat dijadikan acuan adalah “belajar setir mobil” seseorang akan berhenti belajar setir mobil, jika warga belajar tersebut telah dinyatakan lulus oleh kepolisian dengan bukti diberikan Surat Izin Mengemudi (SIM). Sementara di lain pihak pedoman atau petunjuk bagaimana mengevaluasi hasil belajar KF (baik untuk pengetahuan maupun keterampilan) sampai saat ini belum ada, padahal sesulit/semudah apapun pelajaran dalam program pembelajaran harus ada sistem evaluasinya untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajarnya.

Di bidang sertifikasi juga dalam keaksaraan fungsional belum ada. Padahal sertifikasi ini sangat perlu untuk mengetahui sudah berapa banyak masyarakat yang terbebas dari buta aksara serta dapat memberikan kebanggaan bagi warga belajar; karena telah memegang tanda bukti bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan baca, tulis, hitung, dan berbahasa Indonesia.

Dengan adanya sertifikasi, dapat dihindari kesalahan dalam pendataan oleh BPS, karena pengalaman menunjukkan bahwa bagi setiap penduduk yang tidak sekolah (jalur sekolah) dan putus sekolah dasar kelas I, II dan III oleh petugas statistik dimasukkan ke dalam kategori buta huruf. Namun jika warga masyarakat yang masuk ke dalam kategori tersebut tetapi telah memiliki sertifikat dari program keaksaraan fungsional hal tersebut dapat dihindari. Dulu memang ketika masih program pemberantasan buta aksara bernama Program Kejar Paket A, setiap warga belajar yang telah mengikuti satu tahapan belajar dan dinyatakan lulus diberikan STSB, yaitu Surat Tanda Serta Belajar.

  1. Pendidikan Dasar Melalui Program Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP

Program Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP mulai dirintis sejak tahun 1989, dan dilaksanakan secara nasional sejak tahun 1994. Dari periode ini dapat dilihat proses pengembangan kedua program ini kurang lebih selama lima tahun atau satu pelita. Lima tahun merupakan waktu yang cukup untuk mengembangkan berbagai perlengkapan program, seperti kurikulum, modul, dan petunjuk pelaksanaan/penyelenggaraan program. Bahkan untuk Program Paket A telah dikembangkan dan dilaksanakan tahun sejak 1977, namun pada saat itu belum disebut program kesetaraan dan ujiannya melalui program yang dinamakan dengan ujian persamaan (Upers).

Kalau diperkirakan program dimulai sejak tahun 1989, ini berarti usia kedua program sudah lebih dari 10 tahun, maka seharusnya program telah terbebas dari segala kekurangan/hambatan yang bersifat operasional, walaupun ada kekurangan, seharusnya tidak lagi diakibatkan oleh hal-hal yang bersifat teknis operasional tetapi karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan tuntutan pasar, karena bagaimanapun perkembangan lptek dan perubahan kebutuhan pasar sangat cepat, sehingga substansi program Paket A dan Paket B, harus selalu diadaptasikan.

Namun yang terjadi sekarang ini kekurangan/hambatan dalam Program Paket A dan Paket B bukan saja pada substansi materi pelajaran, tetapi yang lebih memprihatinkan kekurangan/hambatan tersebut terjadi pada teknis pelaksanaan program. Banyak sekali kejadian atau tanda-tanda yang timbul akibat dari kesalahan teknis dan substansi. Selama ini telah banyak upaya yang dilaksanakan untuk menyempurnakan pelaksanaan program dan meningkatkan kualitas dan kebermaknaan basil pembelajaran kedua program tersebut terhadap warga belajar. Namun hasil yang dicapai belum optimal seperti apa yang diharapkan dan tertulis dalam konsep akademik program.

Pertanyaan yang timbul adalah kenapa hal ini bisa terjadi? dan kenapa upaya-upaya yang dilaksanakan selama ini kurang efektif? Secara garis besar dapat dijawab bahwa hal ini terjadi karena pemecahan permasalahan yang dilaksanakan selama ini tidak mengena pada akar permasalahan.

Dalam mencari akar permasalahan ini, perlu dikenali sebelumnya kejadian-kejadian yang timbul dalam pelaksanaan program dan dianalisis secara seksama apa penyebab intinya. Karena tidak jarang suatu kejadian yang timbul diakibatkan oleh beberapa sebab, yang kadang kala penyebabnya tersebut bersamaan atau berangkai/bertingkat, yaitu penyebab utama menimbulkan penyebab kedua dan begitu seterusnya, sampai akhirnya kejadian timbul dalam pelaksanaan program. Selanjutnya akan diuraikan berbagai kejadian yang selama ini timbul.

Dalam pelaksanaan program Paket A setara SD dan Paket B setara SUP, berbagai permasalahan yang paling berat dihadapi diuraikan sebagai berikut :

  1. Warga Belajar

Permasalahan yang berkaitan dengan warga belajar adalah: (a) lokasi tempat tinggal warga belajar saling berjauhan sehingga sulit mendapatkan satu kelompok sebanyak 40 orang warga belajar; (b) latar belakang sosial ekonomi warga belajar lemah sehingga frekuensi kehadirannya sangat rendah; (c) warga belajar menjadi pencari nafkah keluarga, mereka hanya belajar kalau waktu mengizinkan; (d) motivasi belajar rendah, mereka berpendapat tanpa belajar pun mereka sudah mendapatkan uang.

  1. Tutor

Tugas tutor bukanlah mengajar tetapi membimbing warga belajar dalam memahami materi pelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu diperlukan tutor yang paham akan masalah pendidikan.

Masalah yang menghambat pelaksanaan Paket A Setara SD dan Paket B Setara SLTP adalah: (a) sulit mendapatkan tutor yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan, khususnya tutor IPA dan Bahasa Inggris; (b) Honorarium yang diterima tutor tidak memadai yaitu dari Rp. I5.000,-/bulan untuk tutor Paket A dan Rp. 20.000,-/bulan untuk tutor Paket B menjadi Rp. 50.000,-. Meskipun telah diadakan peningkatan honor, namun masih belum layak; (c) Usaha peningkatan kemampuan tutor tidak merata, banyak tutor yang tidak pernah ditatar dan tempat tinggal tutor jauh dari warga belajar.

Seorang tutor untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan baik seharusnya dilengkapi dengan kebisaan seperti:

  1. Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan belajar

  2. Kemampuan menyusun program pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang diinginkan warga belajar

  3. Kemampuan berkomunikasi agar mampu menggunakan berbagai cara dalam pembelajaran

  4. Kemampuan menjalankan program dalam arti kemampuan mengorganisir program

  5. Kemampuan menilai hasil program. Dengan demikian tutor harus mengalami standard yang harus dicapai pada setiap kurun waktu

  6. Kemampuan menggunakan hasil penilaian dalam usaha memperbaiki program di masa mendatang.

  1. Prasarana dan Sarana

    1. Prasarana

Permasalahan prasarana belajar yang dapat dipertimbangkan sebagai penyebab hambatan belajar antara lain: (a) belum memiliki gedung sendiri, tetapi masih memanfaatkan balai desa; gedung sekolah yang kosong dan tempat pertemuan lainnya, sehingga tidak jarang meminjam tempat tinggal tokoh masyarakat atau rumah warga belajar yang luas. Dengan dilembagakannya PKBM sebagai tempat segala kegiatan yang ada di masyarakat, maka dapat digunakan oleh warga belajar kejar Paket P, dan B Setara; (b) lokasi gedung sekolah jauh dari tempat tinggal warga belajar; dan (c) fasilitas belajar kurang memadai.

    1. Sarana

Sarana belajar sebagai media yang digunakan untuk belajar membawa berbagai hambatan antara lain : (a) Jumlah modul terbatas, yaitu 1 modul untuk 3 orang warga belajar, yang seharusnya 1 modul untuk tiap warga belajar, akibatnya mereka sukar untuk dapat melaksanakan proses belajar mandiri; (b) terbatasnya jumlah buku yang dapat menambah wawasan warga belajar; dan (c) kurang dimanfaatkannya sarana belajar lokal atau yang tersedia di lokasi kegiatan.

  1. Pehabtanas

Secara konseptual penilaian terhadap warga belajar Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP dilaksanakan dalam bentuk evaluasi proses pembelajaran modul, evaluasi sekelompok modul dan penilaian hasil belajar tahap akhir nasional (Pehabtanas). Secara umum langkah penilaian tersebut di lapangan sudah dilaksanakan. Khusus untuk Pehabtanas materi pelajaran yang diujikan meliputi PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika untuk Paket A dan ke lima bidang studi tersebut ditambah Bahasa Inggris untuk Paket B. Pelaksanaan pengembangan soal dan pemeriksaan hasil ujian tidak dikelola oleh perencana dan pelaksana pembelajaran. Tugas ini dilakukan oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas dengan maksud untuk menjamin obyektivitas dan mutu lulusan.

Pelaksanaan Pehaptanas masih menghadapi beberapa masalah, antara lain: (a) terbatasnya jumlah tenaga yang handal yang mampu menangani Pehabtanas; (b) pendaftaran peserta ujian sering terlambat; (c) pendaftaran peserta tidak sekaligus, akibatnya sering berbeda antara data yang dikirim oleh daerah dengan data yang diterima di pusat; (d) data peserta sering berubah-ubah, akibatnya menghambat. dalam membuat pengumuman kelulusan; (e) longgarnya pengawasan, akibatnya di beberapa daerah ditemukan adanya kesenjangan pelaksanaan; dan (f) terlambatnya pengumuman akibat terlambatnya pengembalian Lembar Jawaban Kerja (LJK) dari daerah ke pusat, yang dapat mengakibatkan kurang kepercayaan peserta pada sistem yang dibangun.

DAFTAR PUSTAKA

    1. Adizes Ishak. Corporate Life Cycle. Prentice Hall. 1988.

    2. Baudin Taufik. Brain Ware Management. Max Media Kopertindo. Jakarta. 1998.

    3. George Binney & Collin Williams. Learning Into The Future. Nicholas Brealy Lander. 1997.

    4. http://imadiklus.com/program-pendidikan-luar-sekolah/